Blog yang membahas tentang dakwah dan keislaman...

yahoo

Dakwah di Era Munculnya Gerakan Modern di Indonesia Awal abad XX

Masuknya Islam di Indonesia sejak abad ke 13 telah menjadikan wilayah Indonesia ini dihuni oleh mayoritas umat Islam. Ketika Islam masuk dan berkembang di wilayah ini tidak dapat lepas dari peran para pedagang asing, khususnya dari India dan Arab, di samping para pengembara yang memang lebih dikenal sebagai propagandis Islam (Da,i). Ketika berkembang di wilayah pesisir, jalan Islam wajar-wajar saja. Akan tetapi ketika ia masuk ke wilayah pedalaman, maka ia mengalami perubahan, di mana dakwah Islam oleh para ulama cenderung memanfaatkan budaya yang telah turun-temurun. Dengan model tersebut dakwah meski berhasil memperoleh pengikut yang sangat besar, tetapi kurang memperhatikan kualitas keislaman para pengikut baru tersebut. Akhirnya dapat kita ketahui bahwa dakwah Islam di Indonesia masa awal telah menghasilkan Islam yang telah bercampur dengan budaya asli setempat. Islam sinkretis (campuran) inilah yang terus berjalan di sebagian besar nusantara. (telah dibahas dalam kuliah)



Berbagai kerajaan Islam yang pernah muncul di Indonesia ikut berperan dalam membangun fanatisme agama bagi rakyatnya, meski dengan agama campuran tadi. Raja dipahami sebagai sosok yang agung, di mana ia berkuasa sebagai pemerintah, penglima perang, dan wakil Tuhan di bumi. Oleh karena itu dalam agam Islam demikian, ketaatan terhadap raja menjadi kebutuhan pokok untuk meraih surga. Dalam kondisi ini, tidak jarang muncul ulama-ulama kontroversial yang menentang kerajaan beserta para ulamanya. Namun demikian, kekuatan raja yang mutlak dan sudah mendapat legitimasi yang kuat dari rakyat sulit untuk ditumbangkan.

Masuknya penjajah ke nusantara membawa kepada arah baru dakwah Islam. Paling tidak fanatisme Islam yang telah bersatu dengan rakyat membuat mereka memandang orang asing yang berlainan agama itu secara waspada. Selama orang Eropa di Indonesia hanya berdagang, maka tidak ada gejolak yang berarti. Namun demikian sejak tahun 1830, dengan dilakukannya reorganisasi pemerintahan di wilayah ini, mengantarkan Belanda menjadi penguasa bagi pribumi. Kondisi ini pada akhirnya menyulut kesadaran kaum pribumi akan penindasan yang dilakukan penjajah atas bangsa dan tanah airnya. Hal ini memuncak setelah terjadinya kerja paksa yang dijalankan oleh penjajah atas kaum pribumi. Kebencian pribumi terhadap penjajah menimbulkan kategorisasi baru antara keduanya, yaitu kategori muslim dan kafir. Kategorisasi ini secara tidak langsung telah memperkuat kembali semangat fanatisme beragama mereka, meski persoalan pengamalan syariat menjadi nomor dua.

Semangat baru Islam ini juga tidak lepas dari tampilnya para ulama kontroversial yang tidak mendapat kedudukan di kerajaan, atau memang disingkirkan dari kerajaan. Kedekatan kerajaan dengan penjajah dijadikan sarana untuk menggalang kekuatan baru bagi mereka. Kelak ulama-ulama di luar kerajaan inilah yang membawa arus modernisasi dakwah Islam di Indonesia, hingga melahirkan berbagai organisasi yang besar pengaruhnya terhadap dakwah itu sendiri.

Di sisi lain kedekatan penjajah dengan keraton telah mengurangi legitimasi rakyat terhadap kerajaan. Pada akhir abad ke-19 mulai banyak orang yang tidak lagi bergantung pada pemerintah Belanda maupun kerajaan, dan mereka menentukan hidupnya sendiri dengan pencaharian baru di luar pertanian, yaitu berdagang dan berproduksi. Sejak itu muncul banyak elite baru, termasuk di dunia umat Islam. Mulai banyaknya muslim kaya dengan berbagai usaha baru itu terlihat bahwa pada awal abad ke-20 mulai banyak muslim yang menunaikan ibadah haji sekaligus tampil manjadi elite baru yang menjadi tumpuan masyarakat miskin. Elite baru inilah yang barangkali oleh Geerzt didefinisikan sebagai kelompok santri, sementara dikalangan bangsawan ada priyayi, dan masyarakat umum adalah abangan.

Pada awal abad ini di Timur Tengah juga tengah mangalami kebangkitan kaum muslimin. Kebangkitan ini juga tidak dapat dilepaskan dari kaum penjajah di wilayah tersebut, khususnya Inggris dan Perancis. Begitu juga di India yang menjadi jalan para haji yang menempuh jalan darat tengah gencar menuntut kebebasan dari penjajah. Kebangkitan di berbagai wilayah itu tidak dapat dipisahkan dari peran kaum muslimin. Banyak tokoh pembebas muslim dan menggunakan ideologi Islam, seperti Afghani, Abduh, Rasyid Ridla, Al Banna, Qutb (di Timur Tengah), Iqbal (India), dan sebagainya.

Berbagai situasi luar negeri demikian menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi para Haji Indonesia, yang sebetulnya bukan Ulama – orang yang mendalami ilmu agama secara khusus –, untuk melakukan tindakan setelah kembali ke tanah air. Berbagai kontak langsung antara orang Indonesia dan Arab semakin intensif, dengan dibukanya terusan Suez pada 1869. Sejak itu jamaah haji Indonesia, yang biasanya dilanjutkan menuntut ilmu di sana, semakin banyak. Sementara itu para pedagang Arab di Indonesia juga meningkat. Kontak-kontak demikian telah menularkan pemikiran Islam yang baru berkembang di Arab saat itu – terutama setelah Abduh dan Ridla – ke Indonesia.

Gerakan mereka merupakan suatu upaya untuk memperbaiki kondisi umat Islam khususnya, dan pribumi umumnya, agar dapat menjalankan tugas hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akherat. Inilah merupakan gerakan dakwah yang banyak ditampilkan oleh para tokoh muslim pada saat itu. Secara umum gerakan dakwah tersebut mengarah pada dua sasaran yang waktu itu dipandang mereka perlu untuk melakukan perubahan sesuai dengan garis agama yang “benar”. Secara umum dakwah mereak menghadapi dua masalah sekaligus menjadi sasaran kerjanya.

Sasaran Pertama adalah menghadapi misi Kristen yang saat itu secara resmi dilakukan oleh pemerintah Belanda. Sebelum itu Belanda sangat menyadari bahwa mayoritas penduduk pribumi adalah orang Islam. Untuk menguasai mereka diperlukan sikap yang hati-hati, karena agama inilah yang justru selalu menyadarkan para pemeluknya bahwa mereka sedang dalam cengkeraman penjajah kafir, dan bahwa cinta tanah air merupakan ajaran Islam. Belanda serba kesulitan untuk menentukan sikapnya atas agama Islam, hingga munculnya Snouck Horgronje pada tahun 1889. Snouck membedakan Islam menjadi Islam sebagai ajaran agama, sebagai ajaran sosial-kemasyarakataan, dan sebagai ajaran politik. Sejak itu dibentuklah Kantoor voor Inlandsche Zaken, yaitu sebuah kantor yang mengurus masalah-masalah pribumi, termasuk agama Islam yang memang merupakan inti dari masalah pribumi. Meski pada permulaan ia merupakan alat bagi Belanda, namun tidak dapat kita pungkiri bahwa ia merupakan cikal bakal dari Departemen Agama yang akhirnya menjadi satu wadah yang penting bagi dakwah Islam di Indonesia.

Saat itu kekuasaan negara Belanda dikuasai oleh kaum agamawan, yang berdampak pada kebijakan untuk melakukan kegiatan misi di daerah jajahan secara resmi. Misi Katolik di Indonesia, terutama di Jawa dimulai dari wilayah Kedu, Muntilan, yang tepatnya didaerah-daerah yang terdapat perkebunan tebu, di mana Belanda berkuasa di sana. Gerakan misi ini yang paling menonjol adalah dengan membuka sekolah (pendidikan modern). Dengan interaksi di sekolah itulah terjadi kegiatan misi sebagaimana direncanakan, dengan pendekatan “inkulturasi budaya”. Para murid banyak berdatangan dari wilayah keraton, baik Surakarta dan Yogyakarta. Hal ini sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi, yang memang saat itu orang yang mampu sekolah hanyalah kaum elite priyayi, sementara kaum elite santri jelas tidak mau sekolah di Kristen. Dengan banyak murid dari keraton maka daerah yang paling mudah mereka masuki adalah wilayah dua keraton tersebut. Inilah yang menyebabkan kegiatan misi, khususnya di Jawa, paling kuat adalah di wilayah keraton.

Sasaran kedua, adalah kondisi umat Islam yang terbelakang dan pengamalan agama yang dianggap tidak sesuai dengan apa yang pernah diajarkan oleh Nabi. Di wilayah ini penduduk sudah lama memeluk agama Islam secara fanatik. Akan tetapi Islam sebagaimana dipeluk oleh masyarakat Indonesia waktu itu sangat terbelakang, sebagaimana yang terjadi di beberapa wilayah lain yang saat itu telah menimbulkan gerakan kebangkitan sebagaimana disebutkan di atas. Banyak para tokoh baru yang melihat bahwa Islam yang diaut oleh masyarakat saat itu sangat terbelakang dan bahkan jauh dari apa yang pernah diajarkan oleh Nabi.

Tanpa mengabaikan yagnlain, di Jawa, di mana mayoritas penduduk Indonesia tinggal, sinkretisme Islam sangat tampak. Cara berfikir tertentu yang bagi akal orang Indonesia dianggap istimewa tetap mereka pertahankan, meskipun Islam telah berinteraksi lama dengan mereka. Kenyataan menunjukkan bahwa di antara gagasan yang ada, yang mempengaruhi pemikiran masyarakat Jawa, maka yang terpenting adalah gagasan tentang kerajaan dan masyarakat dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Dalam konsep itu raja dianggap sebagai dewa, yang mengatur kosmos sehingga selalu terpelihara keseimbangan yang harmoni, sekaligus inilah kehidupan yang surgawi.

Setelah raja Malaka memeluk agama Islam, maka terjadilah perubahan keagamaan di daerah-daerah pesisir pulau Jawa, karena para pedagang dari pantai-pantai itu mengadakan kontak dagang dengan Malaka dan memeluk agama baru, Islam, dan membawanya ke daerah masing-masing. Islamisasi di daerah pesisir itu terjadi pada masa Majapahit. Islamisasi di daerah pedalaman Jawa terjadi secara cepat setelah Mataram berkuasa dan mengalahkan daerah pesisir. Dengan latar belakang Hindu, Islam tidak bisa mengikis kebudayaan yang lama itu. Menurut H.J. Benda, agama Islam di Mataram merupakan agama Islam yang lain sifatnya, yaitu terdiri dari absorbsi sinkretis berbagai aspek agama Islam ke dalam establishment Hindu-Jawa. Islam di pedalaman Jawa merupakan kompromi antara Islam dan Hindu, yang dalam bahasa Geertz “menyesuaikan diri, menyerap, bersikap pragmatis, dan menempuh cara yang berangsur-angsur, mengadakan kompromi-kompromi parsial, perjanjian-perjanjian yang setengah-setengah dan mengelakkan persoalannya sama sekali”. Selain itu para pedagang Islam yang membawa Islam ke Indonesia itu banyak yang berasal dari Gujarat-India. Kelompok ini kebetulan merupakan penganut sufisme melalui kontak dagang dengan para pedagang dari Timur Tengah. Kesamaan sifat-sifat orang Jawa dengan sufisme itu juga telah mempermudah masuknya Islam ke wilayah ini. Sinkretis inilah yang menggerakkan kaum modernis untuk mengubahnya.


Beberapa sebab internal dan sebab-sebab eksternal pembaharuan Islam Indonesia. Dalam kehidupan internal antara lain:

1. Kehidupan agama yang tidak sesuai dengan Al Qur'an dan Hadits dengan timbulnya perbuatan syirik, bid’ah, dan khurafat yang telah menyebabkan ialam menjadi beku.

2. Keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan, dan kemunduran.

3. Tidak mewujudkan semangat ukhuwwah islamiyyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat

4. Lembaga pendidikan Islam tidak dapat memenuhi fungsinya dengan baik dan sistem pesantren yang sudah sangat kuno.

Sebab-sebab eksternal antara lain:

1. Adanya kolonialisme Belanda di Indonesia.

2. Kegiatan serta kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen dan Katolik di Indonesia.

3. Sikap sebagian kaum intelektual Indonesia yang memandang Islam sebagai agama yang telah ketinggalan jaman

4. Adanya rencana politik kistenisasi dri pemerintah Belanda, demi kepentingan politik kolonialnya. (Shalichin Salam, 1956: 56; dalam Weinata Sairin, 1995: 25)

Karena pengaruh asing, maka gerakan-gerakan modern yang akan menentukan Arah baru bagi dakwah Islam di Indonesia bermula dari wilayah Sumatera. Ahmad Chatib yang datang dari Mekkah ke wilayah ini sering disebut sebagai pembawa arah modernisme Islam di Indonesia. Dari pengaruhnya lahirlah tokoh-tokoh baru seperti Thaher Djalaloeddin, M. Djamil Djambek, HAMKA, dan sebagainya. Dari tokoh-tokoh baru itu kemudian muncul wadah-wadah perjuangan modern umat Islam seperti Adabijah, Sumatera Thawalib, Persatoean Moeslimin Indonesia, yang semua ini lebih menekankan pada gerakan pendidikan untuk memperbaiki Islam dan umat Islam.
Persatuan Islam

Berdiri pada 11 September 1923 di Bandung oleh kelompok umat Islam yang tertarik pada kajian dan aktivitas keagamaan. Ia didirikan umat Islam untuk memperluas diskusi-diskusi tentang topik keagamaan yang dilakukan pada basis informal selama beberapa bulan. Berbagai tulisan para pembaharu Timur Tengah seperti Al Manar menjadi salah satu bahan diskusi mereka.

Para anggotanya adalah kelas pedagang yang berasal dari kelompok-kelompok keturunan orang Sumatera yang telah pindah ke Jawa Barat dan menganggap dirinya sebagai orang Sunda.

Tokoh utamanya adalah H. Zamzam (Ahmad Surkati , yang juga tokoh Al Irsyad dan terkenal dengan pendapat fundamentalis Islam di Indonesia) dan Mahmud Junus. Setahun kemudian Persis ini ditokohi oleh Ahmad Hassan yang membawanya pada sebuah organisasi besar. Sebagaimana para tokohnya, maka organisasi ini di bawa ke arah ide-ide fundamentalis, sehingga tidak luput dari ketidaksenangan kaum tradisionalis.

Arah dakwahnya menekankan pengembangan Islam berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah, secara murni. Dalam pandangan fundamentalis, maka hubungan antara manusia sebagai hamba dengan Tuhan dalam setiap ruang dan waktu menjadi sesuatu yang pokok.

Bentuk dakwah

1. Forum diskusi à dilakukan untuk menambah wawasan dan memperkuat keyakinan para anggota dalam rangka mengamalkan Islam sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah.

2. Pendidikan à Pendidikan Islam dan segala ilmumya ditawarkan di tempat pertemuan Persis di Bandung, tetapi mata pelajaran dan kelas lebih dilakukan oleh individu atau kelompok individu dari pada oleh organisasi. Ini merupakan perluasan dari sistem pesantren, di mana guru agama sering menempel dengan masjid dan mengajar dengan suka rela. Murid terdiri dari berbagai umur dari anak-anak hingga dewasa dan bebas memilih mata pelajarannya sendiri.

3. Penerbitan à Pertama kali Persis menerbitkan jurnal Pembela Islam. Ia memuat berbagai tulisan para anggota Persis dan para tokoh Islam lain yang terkenal. Materi terutama tentang ketaatan ibadah dan amaliah umat Islam dalam hidup berbangsa dan bernegara. Selain itu ia menerbitkan majalah Al Fatwaa. Ia banyak memuat tulisan yang pernah dimuat dalam Pembela Islam dalam bahasa Jawi (Arab Pegon: bahasa Melayu bertuliskan arab). Penerbitan lain adalah Al Lisan, Al Taqwa (berbahasa Sunda), Lasykar Islam, dan Al Hikam. Yang membedakan dari terbitan lain, milik Persis ini telah memuat tanya jawab soal agama. Berbagai pamflet dan buku-buku kecil untuk pedoman beragama juga diterbitkan.
Sarekat Islam

Didirikan untuk meningkatkan perdagangan dan politik ummat Islam. SI yang didirikan pada 1912 juga tidak lepas dari kebangkitan Kristen yang mulai digalakkan oleh pemerintah Belanda. Organisasi ini berbeda dengan Muhammadiyah yang juga berdiri pada saat itu. Perkembangan SI yang begitu pesat tidak dapat dilepaskan dari kebangkitan minat beragama masyarakat. Barangkali tanpa adanya peningkatan minat beragama dalam masyarakat itu SI tidak akan demikian berkembang pesat. SI dapat dikatakan sebagai bintang yang paling cemerlang di dalam membina oraganisasi pada awal abad dua puluh ini.

Arah dakwah yang lebih merupakan reaksi terhadap kedatangan asing dengan agama yang juga asing itu ditempuh dengan berbagai bentuk

1. Perbaikan ekonomi, dengan mendirikan berbagai koperasi dalam bentuk pendirian toko-toko kecil untuk para warganya. Langkah ini sangat berjasa untuk meningkatkan kualitas umat Islam dan akhirnya diharapkan bangkit dari ketertindasan oleh bangsa asing.

2. Pertemuan politik. Pertemuan ini sering diadakan di tempat terbuka maupun tertutup. Meski bersifat politis, tetapi nuansa dakwahnya sangat jelas. Materi yang dibicarakan adalah untuk pembebasan rakyat dari penindasan asing yang dianggap kafir, sebagaimana nabi Muhammad pernah mengadakan perlawanan dengan orang kafir Quraisy maupun Yahudi di Madinah. Meski bersifat politik, pertemuan ini sangat kental dengan ayat-ayat Al Qur'an maupun Hadits.

3. Penerbitan. Sarotomo, Medan Moeslimin, Islam Bergerak, Medan Bergerak, dan sebagainya adalah beberapa contoh surat kabar yang pernah dikembangkan oleh SI. Materi yang dimuat banyak kemiripan dengan apa yang telah disampaikan dalam pertemuan di atas.

4. Isu akan datangnya “Ratu Adil” menjadi alat untuk meningkatkan fanatisme terhadap Islam di kalangan masyarakat. “Ratu Adil” bahkan sering diidentikkan dengan tokoh-tokoh tertentu yang ada waktu itu. Jalan demikian SI tidak lebih hanya berhasil untuk meningkatkan fanatisme umat Islam, “tanpa peduli” terhadap kualitas keagamaan mereka.

Muhammadiyah

Muhammadiyah merupakan organisasi yang lahir sebagai alternatif dari berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam Indonesia sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia merupakan konsekuensi logis dari munculnya pertanyaan sederhana seorang muslim kepada diri dan mesyarakatnya tentang bagaimana memahami dan mengamalkan kebenaran Islam yang telah diimani sehingga pesan global Islam yaitu rahmatan lil aalamien atau kesejahteraan bagi seluruh kehidupan dapat mewujud dalam kehidupan obektif umat manusia. Kelahirannya merupakan bagian dari daya kreatif bangsa ini.

Pendirian Muhammadiyah terutama didorong oleh pemahaman Ahmad Dahlan terhadap Al Qur'an, surat An Nisa’ ayat 104. Ayat ini mengandung makna agar setiap muslim berusaha menyatukan diri dalam gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar untuk membebaskan manusia dari kebodohan, kesengsaraan, dan kemelaratan. Gerakan dakwah yang dilakukan adalah merupakan upaya kreatif pola perilaku dalam memenuhi panggilan wahyu dan mengatasi berbagai permasalahan hidup manusia. Selain itu ia juga tidak dapat dilepaskan dengan mulai jaman munculnya para pemikir modern di dunia asal Islam, Timur Tengah. Bersamaan dengan perkembangan pemikiran itu semangat dakwah Islam telah mendorong para ulama memasuki daerah-daerah baru untuk menyebarluaskan Islam.

Dari segi ideologi (melihat namanya), Muhammadiyah mengandung pengertian sebagai sekelompok orang yang berusaha mengidentifikasikan dirinya atau membangsakan dirinya sebagai pengikut, penerus, dan pelanjut perjuangan dakwah nabi dalam mengembangkan tata kehidupan masyarakat agar sesuai dengan Islam dengan cara-cara yang telah dicontohkan olah nabi pula. Hal ini sesuai dengan pasal satu ayat satu Anggaran Dasar yang menyatakan bahwa Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan dakwah Islam.

Gerakan Dakwahnya berupa:

1. Perkumpulan Ulama. Gerakan ini bertujuan untuk memutuskan berbagai masalah agama yang sangat diperlukan untuk mempermudah pengamalan Islam bagi masyarakat, selain meningkatkan pemahaman dan penghayatan di kalangan ulama itu sendiri. Forum Ulama inilah yang kelak (sekarang) berubah menjadi Majelis Tarjih

2. Jamaah Tabligh. Majelis ini merupakan hal yang baru pada saat itu. Majelis ini hingga kini masih dapat kita temui dalam berbagai variasi bentuknya. Dalam jamaah ini sengaja masyarakat hadir di suatu tempat, dan bersamaan itu seorang ulama datang untuk memberi penjelasan tentang agama. Di samping bermanfaat untuk ladang ilmu bagi umat Islam, ia juga menunjukkan syiar agama di suatu lokal tertentu, yang sangat berperan dalam tegaknya Islam dalam masyarakat yang penuh dengan simbolisme. Dalam kaitan dengan ini, pendiri Muhammadiyah, K.H. A. Dahlan adalah seorang muballigh yang sangat dikagumi oleh para pengikutnya, baik dari segi kemampuan mapun kegigihannya dalam mengembangkan Islam.

Dalam bentuk jamaah ini pula Muhammadiyah telah mengembangkan jamaah Tabligh khusus untuk kaum perempuan yang saat itu bernama “Sapa Tresna”, yang kelak (sekarang) berubah menjadi “Aisyiyah”

3. Sekolah. Berbeda dengan milik Persis, sekolah Muhammadiyah dijalankan secra modern, dengan mengikuti konsep Barat. Oleh karena itu tidak aneh bahwa di sekolah ini mata pelajaran umum menjadi sangat penting, di samping sistem kelas (bertingkat) sangat diperhatikan.

4. Pelayanan Umum atau Sosial. Sebagai salah satu contoh yang paling menonjol adalah pendirian berbagai klinik untuk pengobatan. Sebagaimana juga sekolah, klinik ini dikerjakan dengan cara yang telah dikembangkan oleh Barat atau secara modern. Hal ini merupakan reaksi terhadap bentuk misi Katolik yang saat itu sangat gencar melalui gerakan pendidikan dan sosial, sekaligus menunjukkan bahwa ini merupakan cara dakwah untuk menanggulangi masuknya ideologi Kristen ke dalam hati umat Islam pribumi saat itu. Aplikasi makna Qur’an Surat Al-Maun menjadi hal yang paling mendasar dalam perubahan umat islam yang digagas oleh pendiri Muhammadiyah, K.H. A. Dahlan.

5. Penerbitan. Penerbitan yang pernah dilakukan adalah dengan terbitnya Suara Muhammadiyah, yang hingga kini masih sangat mudah untuk kita dapatkan. Selain itu juga sering diterbitkan berbagai pamflet dengan tujuan untuk memberi penjelasan kepada umat Islam tentang agama Islam, berkaitan dnegan berbagai isyu yang sedang berkembang pada waktu itu. Materi utama yang sering ditampilkan adalah Islam sebagaimana yang digariskan oleh organisasi, yaitu islan sebagaimana masa Rasulullah, yang tersirat dalam kata “Moehammadijah”. Oleh karena itu peningkatan kualitas umat Islam serta meninggalkan tradisi yang tidak cocok dengan Islam adalah sangat penting dalam materi dakwah.

Al Irsyad dan Djamijjat Chair

Dua organisasi orang Arab yang tinggal di Indonesia. Gerakan ini juga sangat dipengaruhi oleh gerakan pembaharuan di Timur Tengah. Gerakan dakwah menuju pemurnian agama sangat akrab dengan mereka. Organisasi ini lebih mirip dengan Persis, di mana berbagai forum diskusi dan pendidikan menjadi prioritas utama. Djamiyyat Chair dibentuk di Jakarta pada 17 Juli 1905, oleh kaum kaya Arab. Gerakan dakwahnya dilakukan terutama dalam pendidikan, dengan mendirikan sekolah dan pengiriman beberapa kaum muda untuk belajar di luar negeri, khususnya Turki. Organisasi ini pada 1911 kemasukan para ulama semacam Ahmad Surkati, yang selanjutnaya aktif dalam Al Irsyad dan juga dalam Persis. Al Irsyad sangat erat dengan forum diskusi tentang agamanya, di samping juga bergerak di bidang sosial lain, mengingat banyak diantara pengikutnya adalah kaum pedagang.

Persarikatan Ulasssma

Ia lahir di Jawa Barat (Majalengka) dan juga menekankan pada aktivitas pendidikan. Organisasi ini sendiri bernama “Madjlisoel Ilmi”. Ia juga memberi gerak pada kaum wanita dalam wadah “Fathimijah”.

Ini hanya catatan singkat, dan masih banyak organisasi modern yang lain yang berjasa pada dakwah di Indonesia. Silahkan baca buku yang dapat memperjelas tulisan ini atau mengoreksinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar Yang mengandung SARA akan Kami Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.